Ciung-batu Siul, Blue whistling thrush (Myophonus caeruleus)

Ciung-batu Siul, Blue whistling thrush (Myophonus caeruleus) – Burung ciung-batu siul merupakan salah satu jenis burung dari keluarga Muscicapidae Genus Myophonus. Burung yang dikenal dengan sebutan dengan myophonus caeruleus dalam bahasa ilmiahnya atau blue whistling trush dalam bahasa inggrisnya merupakan salah satu dari beberapa jenis burung yang dapat dijumpai di Indonesia.

Sebelumnya, anggota dari genus Myophonus ini dimasukkan dalam kelompok anis / punglor atau keluarga Turdidae. Namun berdasarkan hasil penelitian terbaru, para ahli memasukknnya dalam keluarga Muscicapidae, atau satu kelompok dengan burung nightingale (Luscinia) dan decu (Saxicola)

Ciri Fisik Ciung-batu Siul, Blue whistling thrush (Myophonus caeruleus)

ciung-batu siul, blue whistling thrush, myophonus caeruleus, ciung batu siul jantan dan betina, suara ciung batu siul, makanan ciung batu siul, cara merawat ciung batu siul

Burung ciung-batu siul tergolong jenis burung berukuran sedang atau besar dengan panjang tubuh sekitar 31 sampai 35 cm dengan berat 136 sampai 231 gram. Di antara ukuran standar, sayap ciung-batu siul berukuran panjang 15,5 – 20 cm, tarsus 4,5 – 5,5 cm dan paruh 2,9 – 4,6 cm. Ras yang hidup di hutan pegunungan wilayah temperata (subtropic) di belahan bumi utara umumnya memiliki ukuran lebih besar dibanding kerabatnya di wilayah tropis. Fenomena ini sesuai dengan kaidah atau aturan Bermann (Bergmann’s Rule) sebagai bentuk adaptasi terhadap suhu lingkungan yang lebih dingin. Di Cina utara, rata-rata pria dan wanita 188 g dan 171 g, sedangkan di India rata-rata 167,5 g dan 158,5 g.

Tubuh Ciung-batu Siul umumnya berwarna hitam diselingi semburat warna biru violet atau kebiruan terutama pada bulu sayap primer dan bulu ekor. Ujung bulu memiliki spot atau bercak berwarna putih terutama pada ras-ras yang menghuni pegunungan bersalju di utara. Ras di selatan memiliki bercak putih lebih sedikit sehingga terlihat lebih gelap.

Warna paruh bervariasi sesuai ras mulai dari hitam hingga kuning terang. Kaki langsing dan jenjang berwarna abu-abu. Warna mata hitam.

Penyebaran dan Ras

Ciung-batu Siul tersebar mulai dari Tajikistan, Turkmenistan, Kazakhstan, Afghanistan, India, Tibet, Nepal, Bhutan, Bangladesh, Myanmar, Laos, Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia dan Indonesia. Berdasarkan ciri fisk dan daerah sebarannya, Ciung-batu Siul terbagi menjadi 6 ras (subspecies), yaitu:

  • Myophonus caeruleus caeruleus (Scopoli, 1786), tersebar di China tengah dan China timur. Paruh ras ini berwarna hitam.
  • Myophonus caeruleus temminckii (Vigors, 1832) tersebar luas mulai dari Tajikistan, Turkmenistan, Kazakhstan, Afghanistan, India, Tibet, Nepal, Bhutan, Bangladesh hingga utara Myanmar. Ukuran paruh ras ini lebih kecil dibanding ras lainnya.
  • Myophonus caeruleus eugeneis (Hume, 1873), tersebar di Vietnam, Laos dan Thailand. Bulu di bagian punggung dan sayap dari ras ini tidak memiliki totol-totol putih sebagaimana ditemukan pada ras lainnya.
  • Myophonus caeruleus crassirostris (Robinson, 1910), tersebar mulai dari Kamboja hingga Semenanjung Malaysia.
  • Myophonus caeruleus dichrorhynchus (Salvadori, 1879), endemik di hutan-hutan pegunungan tropis Sumatera. Ras ini memiliki ukuran totol-totol berkilau kebiruan yang lebih kecil di bagian sayap dibanding ras dari utara.
  • Myophonus caeruleus flavirostris (Horsfield, 1821) endemik di hutan-hutan pegunungan tropis pulau Jawa. Ras ini memiliki paruh berwarna kuning terang. Ukuran paruh paling tebal dibanding ras lainnya.

Suara

Burung ini terkenal dengan suara kicauannya yang keras dan merdu menyerupai suara siulan manusia yang bergema di hutan pegunungan saat dini hari dan senja.

Burung ciung-batu siul mempunyai suara ngerol, sebagaimana ciung-batu kecil (Myophonus glaucinus) dan ciung- batu kalimantan (Myophanus borneensis). Namun ciung-batu siul mempunyai suara kicauan yang lebih lantang dan pandai meniru suara burung lainnya. Selain itu, lagu-lagunya pun mirip suara ngeplong anis merah.

Ciung-batu siul jantan dan betina sama-sama dapat berkicau dan meniru suara burung jenis lainnya. Namun suara burung jantan lebih lantang dan bervariasi.

Habitat dan Kebiasaan

Ciung-batu Siul umumnya ditemukan di hutan pegunungan di daerah temperata Asia Tengah, kawasan  hutan pegunungan tropis dan subtropis di Asia selatan dan hutan pegunungan tropis Asia Tenggara.

Di sepanjang pegunungan Tian Shan dan Himalaya, Ciung-batu Siul melakukan migrasi secara vertikal dimana saat musim dingin tiba burung ini akan turun ke Kawasan yang lebih rendah untuk menghindari suhu yang terlalu dingin.

Sering menghabiskan waktu di permukaan tanah sendirian atau berpasangan. Mencari makan dengan cara membalik serasah daun dan bebatuan. Kadang-kadang memindahkan batu-batu kerikil menggunakan paruhnya dengan cepat untuk mencari mangsa yang bersembunyi.

Burung ini kadang membalikkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mendeteksi adanya pergerakan mangsa di sekitar kaki. Saat waspada, burung ini akan mengembangkan ekornya ke arah bawah.

Ciung-batu Siul sangat aktif saat hari masih gelap terutama sebelum fajar dan sesaat setelah matahari terbenam (crepuscular). Burung ini lebih aktif bersiul saat musim berbiak yang berlangsung antara bulan April hingga Agustus.

Makanan

Ciung-batu Siul termasuk burung omnivore yang memakan buah-buahan, cacing tanah, serangga, keong dan kepiting. Burung ini dilaporkan juga berburu dan memangsa burung kecil. Sedangkan di penangkaran diketahui mampu menangkap dan memangsa tikus kecil.

Kepiting dan keong air tawar yang ditangkap umumnya hidup di bebatuan di sekitar sungai kecil. Kepiting dan keong ini akan dilumpuhkan dengan cara dibenturkan ke batu menggunakan paruhnya hingga hancur.

Reproduksi

sarang burung anis, anakan burung anis, telur burung anis, ternak burung anis, memilih indukan burung anis, burung anis jantan dan betina

Sarang berbentuk cangkir yang dibuat dari potongan lumut dan akar yang ditempatkan lubang atau cekungan di sekitar aliran sungai. Satu sarang biasanya berisi 3-4 butir telur yang dierami selama 2-3 minggu hingga menetas.

Status

Tidak termasuk dalam spesies dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018. Populasi cukup melimpah dan memiliki daerah sebaran sangat luas sehingga oleh IUCN dikategorikan beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern). Tidak tercantum dalam lampiran Appendix CITES.

Bagaimana cara membedakan ciung batu siul jantan dan betina?

Seperti yang sudah disinggung di atas, Ciung-batu siul jantan dan betina sama-sama dapat berkicau dan meniru suara burung jenis lainnya. Namun suara burung jantan lebih lantang dan bervariasi. Namun, untuk membedakan ciung batu siul jantan dan betina cukup mudah, meskipun sepintas keduanya tidak memiliki perbedaan ciung batu siul jantan dan betina.

Baca juga : Empuloh janggut, Brown-cheeked Bulbul (Alophoixus bres)

Untuk membedakan burung ciung-batu siul jantan bisa dikenali dari bulu-bulu tubuhnya yang hitam mengkilap kebiruan. Adapun bulu-bulu burung betina cenderung tidak mengkilap atau hitam kecokelatan.

Bagaimana cara merawat burung ciung-batu siul agar cepat gacor?

Bagaimana pun, cara merawat burung ciung-batu siul secara tepat akan membuatnya rajin berbunyi, dengan suara siulan yang bervariasi. Pawatan secara teratur sangat diperlukan, terutama pada tiga aspek: perawatan harian, pakan tambahan, dan pemasteran.

Perawatan harian ciung batu siul:

  • Rutin mengembunkan burung, terutama pada pukul 04.30, atau sebelum matahari mulai terbit.
  • Pengembunan rutin akan membuat burung makin rajin berbunyi, apalagi ciung-batu siul sangat aktif pada malam hari dan menjelang fajar.
  • Mandikan burung setelah matahari terbit dengan cara mandi karamba. Bisa juga menggunakan cepuk mandi di dalam sangkarnya, maupun mandi semprot dengan sprayer.
  • Jaga kebersihan sangkar dan cepuk pakan / air minum. Kotoran yang menumpuk dalam sangkar akan menjadi tempat perkembangbiakan agen penyakit, sehingga dapat mengganggu kesehatannya.

Apa saja jenis makanan ciung batu siul yang bagus?

Ciung-batu siul suka makan apa saja, mirip burung jalak yang kerap mencari makanan di permukaan tanah. Bahkan burung ini juga gemar memangsa siput atau kepiting berukuran besar. Burung akan menghancurkan cangkangnya pada sebuah batu, sebelum memakannya.

Burung ciung-batu siul juga senang memangsa cicak, tikus, dan kadal yang masuk ke kandang. Di alam liar, burung ini bahkan kerap memangsa burung-burung yang berukuran kecil.

Baca juga : 6 Jenis Ramuan Alami Untuk Memandikan Burung Kicau

Pemberian tambahan untuk burung ciung-batu siul terdiri atas buah-buahan dan serangga. Setelan yang tepat bisa menjadikan burung lebih rajin bersiul. Berikut ini tipsnya:

  • Berikan pakan buahan yang bervariasi setiap hari, seperti pisang atau pepaya.
  • Pada pagi hari, setelah burung dimandikan, berikan cacing tanah sebanyak 1-2 ekor. Sore harinya, berikan 1 ekor cacing tanah.
  • Berikan 5 ekor jangkrik dan 2 ekor ulat hongkong atau ulat jerman setiap pagi dan sore hari.
  • Kroto bisa diberikan beberapa hari sekali, sebanyak 1 cepuk pakan ukuran kecil.

Bagaimana cara memaster ciung batu siul?

kelebihan masteran burung elektronik, kelemahan masteran burung elektronik, agar masteran burung cepat masuk, download masteran burung, master burung kicau, jenis burung masteran, masteran burung kecil

Untuk memancing burung ciung-batu siul agar makin rajin berbunyi, Anda bisa menggantang sangkarnya di antara burung jenis lain berukuran sedang dan gacor. Misalnya anis kembang, anis merah, murai batu, kacer, dan cucak ijo.

Sebaiknya jangan menggantang sangkarnya dekat dengan burung-burung kecil seperti ciblek, pleci, atau burung-madu, karena dapat membuatnya menjadi agresif. Kalau ingin melakukan pemasteran dengan jenis burung kicauan tersebut, usahakan agar sangkarnya terlebih dulu diberi pembatas atau dikerodong.

Pemasteran juga bisa dilakukan pada sore dan malam hari, dengan memutarkan suara maseran yang diinginkan dari perangkat pemutar audio seperti handphone, dan sebagainya.

Demikianlah informasi yang dapat kami sampaikan, semog bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang Ciri Fisik Ciung-batu Siul, Blue whistling thrush (Myophonus caeruleus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *