Kucica Hutan, White-rumped Shama (Copsychus Malabaricus)

Kucica Hutan, White-rumped Shama (Copsychus Malabaricus) – Kucica hutan merupakan salah satu jenis burung kicau dari keluarga Muscicapidae dan genus Copsychus. Nama kucica hutan mungkin terdengan asing, karena burung ini terkenal dengan sebutan murai batu di kalangan para pecinta burung kicau.

Burung yang memiliki nama ilmiah Copsychus Malabaricus (Kittacincla malabarica) atau White-rumped Shama termasuk burung dengan suara merdu dan juga memiliki kemampuan dalam menirukan berbagai macam jenis suara burung di atas rata-rata.

Ciri-ciri Kucica Hutan, White-rumped Shama (Copsychus Malabaricus)

kucica hutan, white-rumped shama, copsychus malabaricus, kittacincla malabarica, jenis murai batu, suara murai batu, makanan murai batu

Kucica hutan tergolong jenis burung berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 14 sampai 30 cm (terasuk ekor) dengan berat tubuh sekitar 22 sampai 42 gram. memiliki bulu hitam di kepala, leher, bagian atas tubuh, dan ekor. Bagian bawah tubuh memiliki warna merah cerah hingga jingga kusam.

Di bagian kepala terdapat semburat warna biru. Ekornya panjang dan akan ditegakkan saat terkejut atau berkicau. Betina lebih keabu-abuan coklat, dan biasanya lebih pendek dari laki-laki. Kedua jenis kelamin murai batu jantan dan betina memiliki paruh hitam dan kaki merah muda.

Burung Remaja memiliki warna bulu yang lebih keabu-abuan atau kecoklatan, mirip dengan bulu pada betina, dengan dada yang berbintik atau trotol.

Penyebaran dan Ras

Secara global, kucica hutan terdapat 14 sub-species yang dikenali dengan penyebaran berbeda seperti berikut :

  • K. m. malabarica (Scopoli, 1786) – India.
  • K. m. leggei Whistler, 1941 – Sri Lanka.
  • K. m. interposita Robinson & Kloss, 1922 – Nepal, India, Bangladesh, Myanmar, China, Hainan, Thailand, dan Indocina.
  • K. m. macroura (J. F. Gmelin, 1789) – Vietnam.
  • K. m. tricolor (Vieillot, 1818) – Semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, Bangka, Belitung, Pulau Natuna, dan Pulau Anamba.
  • K. m. melanura Salvadori, 1887 – Sumatra (kecuali Enggano dan Simeulue).
  • K. m. hypoliza Oberholser, 1912 – Pulau Simeulue (Sumatra.)
  • K. m. opisthochra Oberholser, 1912 – Pulau Lasia dekat Simeulue.
  • K. m. mirabilis (Hoogerwerf, 1962) – Pulau Panaitan.
  • K. m. omissa E. J. O. Hartert, 1902 – Jawa.
  • K. m. nigricauda Vorderman, 1893 – Pulau Kangean.
  • K. m. suavis (P. L. Sclater, 1861) – Kalimantan (Sarawak dan Kalimantan).
  • K. m. stricklandii (Motley & Dillwyn, 1855) – Kalimantan, termasuk Pulau Banggi.
  • K. m. barbouri Bangs & J. L. Peters, 1927 – Pulau Maratua di Kalimantan.

Habitat dan Kebiasaan

Kucica hutan mendiami hutan basah tropis dataran rendah, hutan rawa, hutan tanaman yang ditumbuhi pohon, hutan sekunder, hutan bakau dan pembukaan hutan, dari permukaan laut hingga 1500 m di Thailand, tetapi biasanya lebih dari 500-600 m. Ia cenderung memilih jurang bawah dan teduh untuk mencari makan di tanah.

Baca juga : Cucak Rawa, Straw-headed Bulbul (Pycnonotus Zeylanicus)

Di Asia, habitat mereka adalah tumbuhan bawah yang lebat terutama di hutan bambu. Di Hawaii, mereka umum di hutan lembah atau di pegunungan Ko’olaus selatan, dan cenderung bersarang di semak-semak atau pohon rendah hutan berdaun lebar dataran rendah.

Makanan

Di alam liar, Kucica hutan memakan serangga, tetapi di penangkaran mereka dapat diberi makan legum rebus kering dengan kuning telur dan daging mentah.

Suara Murai Batu

Suaranya nyaring dan jelas, dengan berbagai frasa, dan sering meniru burung lain. Mereka juga membuat panggilan ‘Tck’ di alarm atau saat mencari makan.

Reproduksi

Di Asia Selatan, mereka berkembang biak dari Januari hingga September terutama pada bulan April hingga Juni bertelur empat atau lima telur di sarang yang ditempatkan di rongga pohon. Sarang dibangun oleh betina sendirian sementara jantan berdiri berjaga-jaga.

Sarangnya sebagian besar terbuat dari akar, daun, pakis, dan batang, dan inkubasi berlangsung antara 12 dan 15 hari. Kedua induk kucica hutan memberi makan anakannya meskipun hanya betina yang mengeram.

Telur berwarna putih sampai aqua terang, dengan gradasi warna cokelat bercak, dengan dimensi sekitar 18 dan 23 mm (0,7 dan 0,9 in).

Baca juga : Jalak Nias, Common Myna (Acridotheres tristis)

Apa Kelebihan Murai Batu Jantan di Banding Betina?

Seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa suara murai batu alias kucica hutan tergolong merdu dan memiliki kemampuan yang baik dalam menirukan suara burung lainnya.

Jika ingin mendengarkan suara burung Murai Batu yang indah, maka anda harus memilih burung Murai Batu jantan. Ini dikarenakan hanya Murai jantanlah yang mampu berkicau dengan suara yang merdu dan gacor.

Sedangkan burung Murai betina tidak bisa berkicau seperti yang anda harapkan. Apalagi rata-rata Murai Batu yang sering di perlombakan berkelamin jantan.

Lantas bagaimana cara membedakan murai batu jantan dan betina?

Bagaimana Cara Membedakan Murai Batu Jantan dan Betina?

Bagi para penggemar burung Murai Batu membedakan jenis kelamin murai batu jantan dan betina adalah hal yang biasa, namun bagi mereka yang masih awam dan pemula tentang burung tentunya akan merasa kesulitan dalam membedak murai batu jantan dan betina.

cara membedakan murai batu jantan dan betina, ciri-ciri murai batu jantan, murai batu betina, perbedaan murai batu jantan dan betina

Dibawah ini merupakan ciri-ciri murai batu jantan dan betina :

Ciri-ciri Murai Batu Jantan Dewasa

  • Kucaica hutan jantan memiliki paruh yang lebih tebal dan panjang
  • Mempunyai struktur tubuh berukuran lebih besar dari MB betina
  • Warna hitam pada bulu lebih pekat dan mengkilap
  • Bulu kucica hutan di badannya terlihat sangat hitam dan mengkilat,
  • Bulu di bagian dada lebih ke warna coklat gelap.
  • Ekor lebih mencolok ,panjang dengan bulu yang berlapis dan tebal
  • Ukuran kepala lebih lebar dan besar
  • Pada murai batu Jantan Posisi mata kelihatan lebih menjorok atau menonjol keluar
  • Kakinya tebal, panjang dan kokoh
  • Pubis atau Supit urang jika kita amati dan diraba akan terasa lebih kaku
  • Suara murai batu jantan kicaunya lebih keras , variatif dan merdu
  • Pada sebagian MB jantan jenis tertentu Ada bulu berwarna putih agak lebar di bagian punggungnya.

Ciri Murai Batu Betina Dewasa

  • Secara umum paruh kucai hutan betina lebih kecil dan pendek
  • Mempunyai struktur tubuh berukuran lebih kecil
  • Bulu kucica huta yang berwarna hitam terlihat lebih kusam atau keabu-abuan dan tidak mengkilap
  • Bulu kucica hutan di bagian dada cenderung ke warna coklat muda
  • Warna bulu putih yang terdapat di bagian punggung kucica hutan betina terlihat lebih kecil / menyempit
  • Ekor kucica hutan betina biasanya lebih kecil dan pendek
  • Ukuran kepala lebih kecil
  • Posisi mata biasa tidak terlalu menonjol keluar dibanding jantan
  • Ukuran kaki lebih kecil dan pendek dengan tulang yang tipis
  • Pubis atau Supit urang kucica hutan betina jika kita amati dan diraba terasa lunak dan renggang
  • Cenderung Berkicau dengan suara lebih monoton dan pelan.

Bagaimana Cara Merawat Murai Batu Agar Cepat Gacor

Perawatan harian untuk burung Murai Batu alias kucica hutan relatif sama dengan burung kicau jenis lainnya, kunci keberhasilan perawatan harian yaitu rutin dan konsisten.

Berikut ini Pola Perawatan Harian dan Setingan Harian untuk burung Murai Batu:

  • Jam 07.00 burung diangin-anginkan di teras. Jam 07.30 burung dimandikan (karamba mandi atau semprot, tergantung pada kebiasaan masing-masing burung).
  • Bersihkan kandang harian. Ganti atau tambahkan Voer dan Air Minum.
  • Berikan Jangkrik 4 ekor pada cepuk EF. Jangan pernah memberikan Jangkrik secara langsung pada burung.
  • Penjemuran dapat dilakukan selama 1-2 jam/hari mulai pukul 08.00-11.00. Selama penjemuran, sebaiknya burung tidak melihat burung sejenis.
  • Setelah dijemur, angin-anginkan kembali burung tersebut diteras selama 10 menit, lalu sangkar dikerodong.
    Siang hari sampai sore (jam 10.00-15.00) burung dapat di Master dengan suara Master atau burung-burung Master.
  • Jam 15.30 burung diangin-anginkan kembali diteras, boleh dimandikan bila perlu.
  • Berikan Jangkrik 2 ekor pada cepuk EF.
  • Jam 18.00 burung kembali dikerodong dan di perdengarkan suara Master selama masa istirahat sampai pagi harinya.

Makanan Yang Bagus Untuk Burung Murai Batu

  • Voer (sebaiknya pilih yang berkadar protein sedang yaitu: 12%-18%, belum tentu Voer yang berharga mahal akan cocok dengan sistem metabolisme setiap burung Murai Batu. Voer harus selalu tersedia didalam cepuknya. Selalu ganti dengan Voer yang baru setiap dua hari sekali.
  • EF (Extra Fooding), pakan tambahan yang sangat baik buat burung Murai Batu yaitu: Jangkrik, Orong-orong, Kroto, Cacing, Ulat Hongkong, Ulat Bambu, Kelabang, Belalang dan lainnya. Pemberian EF harus selalu disesuaikan dengan karakter pada masing-masing burung dan juga harus mengetahui dengan pasti dampak klausal dari pemberian EF tersebut.

Kapan Waktu Memaster Murai Batu?

Untuk melakukan pemasteran murai batu terdapat beberapa anggapan yang beredar seperti melihat burung yang akan di master harus melihat burung masternya, agar burung yang di master dapat menirukan gaya bunyi dan cara membuka mulut burung master tersebut.

Selain itu ada yang beraggapan harus menunggu burung murai batu dalam keadaan ganti bulu atau mabung. Sebenarnya untuk memaster murai batu tidak harus menunggu burung kicau dalam keadaan mabung atau berganti bulu.

Karena burung kicau dalam keadaan normal, bahkan dalam keadaan top performance pun juga dapat dilakukan pemasteran.

Secara logika memang dapat dibenarkan waktu pemasteran murai batu saat mabung, karena murai batu saat mabung cenderung banyak diam dan sangat jarang sekali berkicau.

Burung yang banyak diam pada masa mabung tersebut, cenderung untuk lebih banyak menggunakan waktunya untuk menyimak dan mengolah suara-suara yang ada di sekelilingnya.

Apabila suara yang didengarnya sesuai dengan tipikal karakter suara murai batu, maka akan direkam dan ditirukan.

Kunci keberhasilan dalam memaster burung Murai Batu adalah memaster burung dengan suara-suara masteran  yang cocok dan sesuai dengan karakter dasar lagu burung yang akan di master.

Satu lagi yang terpenting, jangan lupa untuk selalu memperdengarkan suara-suara master tersebut secara berkala (Feedback) kepada burung Murai Batu tersebut. Supaya irama lagu yang sudah ada tidak hilang dan jadi rusak.

Kesimpulan

Dari beberapa jenis murai batu alias kucica hutan, tidak semuanya dapat dijumpai di pasaran Indonesia. Di pasaran atau penangkaran sekitar ada lima jenis burung murai batu

Demikianlah informasi yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang Kucica Hutan, White-rumped Shama (Copsychus Malabaricus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *