Serak Jawa, Barn-Owl (Tyto Alba)

Serak Jawa, Barn-Owl (Tyto Alba) – Serak Jawa merupakan salah satu jenis burung pemangsa selain elang dan alap-alap dari keluarga tytonidae dan genus tyto. Burung hantu ini paling banyak tersebar di dunia dibandingkan jenis burung hantu lainnya dan hampir ditemukan dimana-mana kecuali daerah kutub, gurun, himalaya, dan beberapa pulau pasifik lainnya. Burung yang memiliki nama ilmiah tyto alba atau barn owl dalam bahasa inggrisnya memiliki beragam nama penyebutan di Indonesia mulai dari serak jawa, daris, tyto alba dan barn owl.

Bukti filogenetik menunjukkan bahwa serak jawa setidaknya ada jenis keturunan utama burung hantu, satu di Eropa, Asia Barat dan Afrika, satu di Asia Tenggara dan Australasia, dan satu di Amerika. Dengan demikian, beberapa otoritas taksonomi membagi jadi lima spesies, dan penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk memperjelas posisi tersebut. Ada variasi yang cukup besar antara ukuran dan warna sekitar 28 subspesies.

tetapi kebanyakan berukuran antara 33 dan 39 cm dengan lebar sayap antara 80 hingga 95 cm. Serak jawa aktif di malam hari meskipun ada juga berburu di siang hari untuk mencara mangsa seperti mamalia kecil.

Ciri-ciri Serak Jawa, Barn-Owl (Tyto Alba)

Serak Jawa, Barn-Owl, Tyto Alba, harga burung hantu, memelihara burung hantu tyto alba, harga tyto alba, harga barn owl, ternak burung hantu

Serak jawa termasuk jenis burung berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 29 sampai 44 cm dengan rentang sayap 68 hingga 105 cm cm dan berat tubuh serak jawa dewasa bervariasi, paling ringan sekitar 260 gram (T. a. Punctatissima) rata-rata berat tubuh serak jawa (T. a javanica) sekitar 555 gram sedangkan terberat sekitar 710 gram (T. a. furcata) dari Kuba dan Jamaika.

Baca juga : 54 Jenis Burung Hantu di Indonesia

Wajah serak jawa berbentuk hati, warna putih dengan tepi coklat. Mata menghadap kedepan, merupakan ciri yang mudah dikenali. Bulu lembut, warna tersamar, bagian atas berwarna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar pada bulu. Ada tanda mengkilat pada sayap dan punggung. Bagian bawah berwarna putih dengan sedikit bercak hitam, atau tidak ada.

Bulu pada kaki jarang-jarang. Kepala besar, kekar dan membulat. Iris mata berwana hitam. Paruh tajam, menghadap kebawah, warna keputihan. Kaki warna putih kekuningan sampai kecoklatan. Jantan-betina hampir sama dalam ukuran dan warna meski betina seringkali lebih besar 25%. Betina dan hewan muda umumnya punya bercak lebih rapat.

Penyebaran dan Jenis

Serak jawa tersebar luas di seluruh dunia, terdapat 28 sub-spesies yang dikenal dengan pesebaran berbeda. Tiga diantaranya dapat ditemui di Indonesia:

  • alba (Scopoli, 1769) – Eropa Barat & Selatan (termasuk P. Balearik dan Sisilia) sampai Turki Utara; juga di P. Canary (Tenerife, Gran Canaria, El Hierro), dan Afrika Utara dari Maroko sampai Mesir (kecuali Sinai), ke Selaran sampai Mauritania Utara, Aljazair, Nigeria (Aïr Massif) dan Sudan Timur-laut.
  • guttata (C. L. Brehm, 1831) – Eropa Tengah ke timur sampai Latvia, Lithuania dan Ukraina, ke tenggara sampai Albania, Macedonia, Romania and Yunanu Timur-laut.
  • ernesti (Kleinschmidt, 1901) – Sardinia dan Corsica.
  • erlangeri W. L. Sclater, 1921 – Crete dan pulau-pulau yang lebih kecil di Yunani Selatan, Siprus dan sebagian kecil kawasan di Suriah, Iran, Mesir (Sinai) dan semenanjung Arab.
  • schmitzi (Hartert, 1900) – Madeira dan Porto Santo.
  • gracilirostris (Hartert, 1905) – Kep. Kanari bagian timur (Fuerteventura, Lanzarote, Lobos, Montaña Clara, Alegranza).
  • detorta Hartert, 1913 – Kep. Cape Verde.
  • affinis (Blyth, 1862) – Afrika dari ujung selatan sahara, termasuk Zanzibar,  Pemba, Madagaskar dan Kep. Comoro.
  • poensis (Fraser, 1842) – P. Bioko.
  • thomensis (Hartlaub, 1852) – P. São Tomé.
  • stertens Hartert, 1929 – Sub-benua India ke selatan sampai Sri Lanka Utara, ke timur sampai Yunnan, Vietnam, dan Thailan Selatan.
  • deroepstorffi (Hume, 1875) – Kep. Andaman Selatan.
  • meeki (Rothschild & Hartert, 1907) – Papua Nugini Timur dan pulau-pulau disekitar Kep. Manam dan Karkar.
  • crassirostris Mayr, 1935 – Kep. Tanga (Timur Gugus kepulauan Bismarck).
  • interposita Mayr, 1935 – Kep. Santa Cruz, Kep. Banks, N Vanuatu (ke selatan ke Efate).
  • pratincola (Bonaparte, 1838) – Kanada Selatan ke selatan sampai Meksiko; juga Bermuda, Bahamas dan Hispaniola.
  • guatemalae (Ridgway, 1874) – Guatemala dan mungkin sampai Meksiko selatan dan Panama (termasuk Kep. Pear), mungkin juga di Kolombia Barat.
  • bondi Parkes & Phillips, 1978 – Kep. Bay (Roatán, Guanaja), Utara jauh Honduras.
  • furcata (Temminck, 1827) – Kuba, Cayman Is and Jamaika.
  • niveicauda Parkes & Phillips, 1978 – I of Pines.
  • bargei (Hartert, 1892) – Curaçao, dan mungkin di Bonaire.
  • punctatissima (G. R. Gray, 1838) – Kep. Galapagos.
  • contempta (Hartert, 1898) – Venezuela Barat, Colombia (kecuali bagian barat?), Ekuador dan Peru.
  • hellmayri Griscom & Greenway, 1937 – Venezuela Timur (termasuk P.  Margarita) melalui Guianas ke Brazil Utara (keselatan menuju Amazon); juga di Trinidad Tobago.
  • tuidara (J. E. Gray, 1829) – Brazil (Bagian selatan Amazon) ke selatan sampai Tierra del Fuego dan Kep. Falkland.

Sub-spesies lokal dan persebarannya :

  • javanica (J. F. Gmelin, 1788) – Semenanjung Malaysia sampai Sunda Besar (termasuk Krakatau, Kep. Seribu, P. Kangean, dan mungkin Kalimantan Selatan) dan ke timur sampai Alor, Tanahjampea, Kalau dan Kalaotoa.
  • sumbaensis (Hartert, 1897) – Sumba.
  • delicatula (Gould, 1837) – Sawu, Roti(?), Timor, Jaco, Wetar, Kep. Kisar dan Tanimbar; Australia dan pulau-pulau di lepas pantainya; Long Island dan mungkin di  New Britain dan New Ireland; juga Nissan, Buka, Solomon (including Bougainville), Vanuatu Selatan (Erromanga, Tanna, Aneityum), New Caledonia, Kep. Loyalty , Fiji (ke utara sampai Rotuma), Tonga (ke utara sampai Niafo’ou), Wallis and Kep. Futuna , Niue , Samoa barat dan Samoa.

Penyebaran Lokal

Serak jawa tidak umum di dataran rendah Sumatera, Jawa, dan Bali, sampai ketinggian 800 m. Tidak tercatat di Kalimantan, tetap tersebar di Sumatera bagian tengah dan selatan (mungkin akibat penebangan hutan) dan ada kemungkinan masuk ke Kalimantan Selatan.

Suara serak jawa

Keras, parau, teriakan bernada tinggi :”whiiikh” atau “se-rak”. Juga Suara tinggi “ke-ke-ke-ke”(DAH). Serak jawa dewasa yang kembali ke sarang dapat memberikan suara serak seperti katak yang rendah. Ketika terkejut, ia membuat suara mendesis dan serak serta suara gertakan yang sering disebut bill snapping, tetapi mungkin dilakukan dengan mengekliknya.

Habitat dan Kebiasaan

Serak jawa (Tyto Alba) yang umum didapati di wilayah berpohon, sampai dengan ketinggian 1.600 m dpl. Di tepi hutan, perkebunan, pekarangan, hingga taman-taman di kota besar. Sering bertengger rendah di tajuk pohon atau perdu, berbunyi-bunyi dengan memilukan, atau bersahutan dengan pasangannya. Sewaktu-waktu terjun menyambar mangsanya di permukaan tanah atau vegetasi yang lebih rendah. Sering pula berburu bersama dengan anak-anaknya.

Serak jawa alias tyto alba atau barn owl, aktif pada malam hari. Namun, terkadang aktif pada senja hari dan dini hari, bahkan sesekali bisa dijumpai sedang terbang pada siang hari. Pada siang hari, Tyto alba biasanya berdiam diri pada lubang-lubang pohon, gua, sumur, bangunan-bangunan tua atau pada tajuk pepohonan yang berdaun lebat.

Beberapa jenis, khususnya serak jawa, mampu menempati tempat buatan manusia yang mirip dengan lubang pohon. Sarang Gagak dan burung pemangsa lain yang sudah ditinggalkan, juga merupakan tempat pilihan. Hanya sedikit atau tidak ada usaha sama sekali untuk memperbagus konstruksi pembuat sarang sebelumnya. Celah batuan juga digunakan oleh beberapa jenis burung.

Makanan

Burung hantu Tyto Alba memiliki kawasan berburu yang tetap dan teratur. Ia tidak akan meninggalkan kawasan perburuannya selama di tempat tersebut masih ada tikus. Burung hantu Tyto Alba mempunyai daya jelajah terbang sejauh 12 km. Walaupun begitu, burung hantu Tyto Alba tetap setia pada kandannya selama kandang tersebut masih dirasa aman.

Makanan spesifik butung hantu serak jawa adalah jenis tikus. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kotoran burung hantu Tyto Alba 99% adalah tikus, sedangkan yang 1% adalah serangga. Burung hantu Tyto Alba memiliki kemampuan berburu tikus sangat tinggi, tangkas dan cekatan. Di samping itu, burung hantu Tyto Alba juga mampu menyambar dan mengejar tikus di atas tanah dengan cepat dan tepat.

Kemampuan

Burung hantu Tyto Alba mampu mengkonsumsi 2-3 ekor perhari dan mampu berburu tikus melebihi jumlah yang dimakannya. Daya penglihatan dan pendengarannya pada malam hari sangat tajam. Burung hantu Tyto Alba mampu mendengar suara (cicitan) tikus pada jarak 500m.

Penglihatan burung hantu Tyto Alba sangat tajam karena ia memiliki sinar infra merah sehingga mampu melihat dengan jelas pada malam hari yang gelap. Disamping itu, burung hantu Tyto Alba juga memiliki bulu yang di lapisi lilin sehingga ketika terbang menyambar tikus tidak bersuara.

Reproduksi

Serak jawa akan berkembang biak setiap saat sepanjang tahun, tergantung pada persediaan makanan. Pada tahun yang baik, pasangan bisa berkembang biak dua kali. Wabah tikus menyebabkan jumlah Barn Owl meningkat secara dramatis. Selama pacaran, pejantan dapat berputar di dekat pohon sarang, memberikan pekikan pendek dan panggilan mengobrol.

Mayoritas serak jawa bersarang di lubang pohon setinggi hingga 20 meter. Mereka juga akan bersarang di bangunan tua, gua, dan lubang sumur. 3 hingga 6 telur diletakkan (kadang-kadang hingga 12) dalam interval 2 hari. Telurnya 38-46mm x 30-35mm dan akan diinkubasi selama 30 hingga 34 hari.

Anakan serak jawaditutupi putih ke bawah dan dipelihara selama sekitar 2 minggu, dan dipelihara dalam 50 hingga 55 hari. Setelah ini, mereka akan tetap di sekitarnya selama seminggu atau lebih untuk mempelajari keterampilan berburu dan kemudian dengan cepat menyebar dari area sarang. Burung muda dapat berkembang biak sekitar 10 bulan.

Baca juga : Celepuk Jawa, Javan Scops-owl (Otus angelinae)

Beberapa peneliti menyatakan bahwa serak jawa alias Tyto alba dapat bersifat Poligami. Dijumpai seekor jantan dapat memiliki lebih dari satu pasangan, dengan jarak antar sarang kurang dari 100 meter. Selama pendekatan alias PDKT, jantan berputar sekitar pohon dekat sarang, sambil menyuarakan deritan dan koaran.

Kebanyakan tyto alba bersarang di lubang pohon sampai ketinggian 20 meter. Mereka juga dapat bersarang pada bangunan tua, gua, dan ceruk sumur. Burung hantu dapat berkembang biak sepanjang tahun, tergantung kecukupan suplai makanan.

Jika kondisi lingkungan memungkinkan, sepasang serak jawa dapat berbiak dua kali dalam setahun. Pada daerah temperata (daerah yang memiliki empat musim yakni panas, gugur, dingin (salju), dan semi) dan sub Artik (wilayah di sekitar Kutub Utara), perkembangbiakan (perkawinan dan peletakan telur) terjadi pada musim semi.

Populasi tikus yang tinggi di suatu daerah dapat memacu perkembangbiakan populasi Tyto alba secara dramatis. Tidak heran dibeberapa daerah Indonesia burung ini dijadikan penjaga sawah oleh petani untuk menjaga lahan pertanian mereka

Berapa harga burung hantu tyto alba

Untuk memelihara serak jawa atau merawat tyto alba ini tidak semahal alap-alap kawah karena harga burung hantu tyto alba terbilang murah yaitu sekitar 200 ribuan sudah bisa mendapatkan penjaga sawah ini

Kesimpulan

Burung hantu serak jawa alias burung hantu tyto alba termasuk jenis burung yang dapat dimanfaatkan untuk menjaga tikus di area pertanian dan burung ini tersebar luar di beberapa daerah di dunia. Harga tyto alba alias serak jawa tergolong murah

Demikianlah informasi yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang Serak Jawa, Barn-Owl (Tyto Alba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *